Newest Post

Computer Supported Cooperative Work (CSCW)

| Jumat, 28 November 2014
Baca selengkapnya »
Computer suported cooperative work

Computer Supported Cooperative Work (CSCW) adalah sebuah istilah generik yang menggabungkan pemahaman cara orang bekerja dalam kelompok dengan teknologi pendukung brupa jaringan komputer, perangkat keras, perangkat lunak, layanan dan teknik. Dalam hal ini CSCW menyebarluaskan haisl penelitian yang inovatif serta memberikan sebuah forum interdisipliner untuk perdebatan dan pertukaran gagasan tentang teori, masalah-masalah praktis, teknis dan sosial. salah satu contoh sistem CSCW ini adalah electronic mail (email). Email ini merupakan sistem CSCW yang bersifat asynchronous yang tidak mengharuskan user bekerja pada waktu yang bersamaan. Sedangkan CSCW synchronous membutuhkan partisipasi simultan dari para usernya. Dalam hal ini terdapat perbedaan utama antara sistem CSCW dengan sistem interaksi individual, yaitu tidak dapat diabaikannya aspek sosial kelompok dari user yang tergabung.  
Dari paparan diatas dapat diartikan bahwa Computer Supported Cooperative Work atau yang biasa disingkat CSCW adalah penggunaan komputer dan software untuk melaksanakan pekerjaan secara bersama dalam sebuah group, dimana setiap anggota group tersebut menyadari kehadiran anggota lain pada group. CSCW ini digunakan unutk membantu pekerjaan sebagai suatu group dan bagaiman acara memahami dampak dari suatu teknologi pada pola pekerjaan mereka. CSCW bertumpu pada sociology-computing. Sistem kompute CSCW mendukung pekerjaan para anggota sebagai suatu group yang dikenal dengan istilah groupware. Groupware adalah jenis software yang membantu kelompok kerja yang terhubung ke jaringan untuk mengelola aktivitas mereka.
Mungkin salah satu contohnya penerapan CSCW pada bidang pendidikan yaitu dimana para siswa melakukan kelas virtual dan saat itu sedang mengerjakan ulangan harian dimana para siswanya saat melakukannya tidak benar-benar berada di kelas tetapi bisa dimana saja yang memungkinkan siswa tersebut untuk bisa terhubung pada suatu jaringan. Contoh lainnya yaitu fasilitas chating dimana seseorang bisa berdiskusi melalui antarmuka teks tanpa harus bertatap muka secara langsung.

Istilah Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984, pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka. Pada kesempatan yang sama pada tahun 1987, Dr. Charles Findley mempresentasikan konsep collaborative learning-work. Menurut, CSCW mengangkat isu seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya dapat didukung teknologi komputer. Beberapa orang menyamakan CSCW dengan groupware, namun yang lain mengatakan bahwa groupware merujuk kepada wujud nyata dari sistem berbasis komputer, sedangkan CSCW berfokus pada studi mengenai kakas dan teknik dari groupware itu sendiri, termasuk didalamnya efek yang timbul baik secara psikologi maupun sosial.
Contoh yang digunakan pada CSCW, antara lain :
1.       Kolaborasi para Ilmuwan yang bekerja sama pada suatu proyek.
2.      Pengarang mengedit suatu dokumen bersama-sama.
3.       Programmer suatu sistem secara bersamaan.
4.      Bekerja sama sebagai sharing atas suatu video bersama yang conferencing aplikasi.
5.      Para pembeli dan para penjual melakukan transaksi secara eBay.
CSCW seringkali diasumsikan sebagai aspek yang dihasilkan dari sebuah groupware. CSCW lebih sering berorientasi pada evaluasi terhadap hal-hal yang terjadi dalam proses interaksi antar manusia dalam sekelompok pengguna. Interaksi tersebut antara lain :
1.       Komunikasi yang normal antar manusia
-komunikasi face-to-face
-Percakapan
2.      Komunikasi berbasis teks
Komunikasi face-to-face tidak hanya meliputi bicara dan pendengaran, tapi juga menggunakan bahasa tubuh dan tatapan mata.
-Personal space;
-Kontak dan tatapan mata;
-Gerak isyarat dan bahasa tubuh;
-Back Channel

-Turn-taking 


SUMBER :
http://xiaolichen14.wordpress.com/2012/11/02/cscw-computer-supported-cooperative-work/

http://www.slideshare.net/yayangpeterfoundeven/cscw

http://bloganakfilkom.blogspot.com/2010/04/pengertian-computer-supported.html

Computer Supported Cooperative Work (CSCW)

Posted by : Maharanisme
Date :Jumat, 28 November 2014
With 0komentar

review film : Captain Phillips (west movie)

| Kamis, 27 November 2014
Baca selengkapnya »

Captain Phillips


IDENTITAS FILM :

-Tanggal Rilis        à 17 Oktober 2013 (Indonesia)
-Genre                   à Action, Thriller
-Durasi                  à 134 menit
-Sutradara             à Paul Greengrass
-Pemain                à Tom Hanks & Barkhad Abdi
-Studio                 à Michael De Luca Productions, Scott Rudin Productions,
    Trigger Street Productions.

Captain Phillips, sebuah film yang menanyangkan perjuangan seorang kapten dalam misi penyelamatan kapal Maersk Alabama oleh 2 kapal kecil yang terdiri dari beberapa perompak bersenjata dari Somalia. Film ini dibintangi oleh Tom Hanks, seorang aktor menawan yang merupakan aktor kawakan pemenang duakali piala Oscar. Dalam film ini Tom Hanks berperan sebagai kapten Phillips –Richard Phillips- yang menunggangi kapal Maersk Alabama yang bermuatan 17.000 metrik ton kargo dengan jumlah awak 20 orang. Kala itu kapal tersebut sedang berlayar menuju Mombasa, Kenya. Sebelum pembajakan terjadi, kapten Phillips dan ke-20 orang awak kapal sudah melakukan training sehari sebelumnya tentang bagaimana menghadapi para bajak laut (anti-piracy training). Training tersebut mencakup anti-terror, basic safety, first aid dan lain-lain.

Keesokan harinya tepat tanggal 08 April 2009, alarm peringatan pun berbunyi, 2 kapal kecil terlihat membuntuti kapal Maersk Alabama tersebut. Kapten Phillips langsung berinisiatif menghubungi Angkatan Laut Amerika untuk mengabarkan kondisi gawat darurat kapal Maersk Alabama saat ini.  Berbagai cara dilakukan oleh kapten Phillips dan kru-krunya. Berbagai arahan disampaikan kapten kepada para kru agar tetap bekerja sama untuk melawan para bajak laut. kekuatan tim work mereka saat itu perlahan mebuahkan hasil. Dua kapal kecil tersebut mulai kehilangan kendali, namun masih ttap bisa bertahan. Malam mulai larut, Kapten Phillips dan kru berkumpul di ruangan. Terdengar beberapa kru yang menggerutu karena kejadian yang mereka alami, cemas, panik dan ketidaknyamanan mulai menguasai ruangan tersebut. Adu mulut pun terjadi, sang kapten berusaha untuk membuat para kru-krunya merasa tenang, salah satunya dengan cara meyakinkan mereka bahwa mereka akan segera mendapatkan penerbangan pertama menuju kampung halaman masing-masing. Pada dasarnya penawaran yang kapten Phillips berikan saat itu hanya untuk menenangkan para kru yang sedang panik. 

Malam berganti pagi, para bajak laut kembali membuntuti kapal Meirsk Alabama namun hanya dengan 1 kapal kecil yang terdiri dari 4 orang bajak laut bersenjata. Kapten mengarahkan untuk melakukan trik yang telah mereka lakukan dihari sebelumnya, namun tidak membuahkan hasil. serentak kapten Phillips memerintahkanmike Perry  yang merupakan Chief Engineer (C/E) membawa 14 orang awak kapal untuk disembunyikan di dalam “secure room” yang terletak di lantai dasar ruang mesin. Di sisi lain,  ke-4 orang bajak laut tersebut berhasil menguasai kapal Maersk Alabama. Pembajakan terjadi seharian penuh yang dihiasi dengan perang mulut antara kedua belah pihak. Kemarahan kapten bajak laut memuncat ketika mesin kapal mati secara tiba-tiba, ia memerintahkan kapten Phillips untuk menggeledah kapal Alabama agar menemukan para kru.  Dalam pencarian para kru, salah satu anggota bajak laut yang berusia sangat muda terinjak pecahan beling yang sengaja diletak oleh para kru. Kemarahan kapten bajak laut semakin memuncak. Kapten Phillips menawarkan kesepakatan untuk memberikan mereka uang sebesar 30.000 dollar, namun kapten bajak laut  menolaknya dan meminta uang yang lebih.  Darah pada luka yang diderita anggota bajak laut terus mengalir, kapten bajak laut memerintahkan kapten Phillips untuk membawa anak buahnya ke atas dan meninggalkan dia sendiri. kapten bajak laut tertangkap, kemarahan anggota bajak laut yang lain turut memuncak, lalu kapten Phillips memberikan penawaran lagi yaitu uang 30.000 dollar dan sekoci untuk transport agar meninggalkan kapal Maersk Alabama dan kembali ke Somalia. Namun kesepakatan tersebut diingkari dengan menyandera kapten Phillips.

Selama di dalam sekoci kapten Phillips mengobati anggota bajak laut yang terluka akibat pecahan beling tadi. Keesokan harinya, Angkatan Laut Amerika yang dibantu oleh psukan katak, USS Boxer & USS Halyburton bergegas dalam misi penyelamatan kapten Phillips. Misi penyelamatan kapten Phillips tidak berjalan mulus, berbagai kesepakatan diberikan untuk membujuk agar kapten bajak laut mau bernegosiasi kepada Angkatan Laut Amerika hingga kondisi kapten Phillips yang sedang terancam karena salah satu anggota berniat menembak kapten Philips yang saat itu sedang menyerang anggota lain dari bajak laut tersebut. suasana semakin menegangkan, Angkatan laut tidak bisa menahan lagi, tembakan langusng diarahkan pada ketiga target bajak laut. cipratan darah tersebar di dalam sekoci, shok, perasaan panik, kalut, takut, trauma berkumpul menjadi satu pada kapten Phillips. Saat itu kapten phillips dibawa ke klinik untuk diperiksa. Di dalam ruangan kapten philips masih shok dengan kejadian yang telah ia alami. Ekspresi yang ditunjukkan hanya menangis sembari menjawab pertanyaan yang dilontarkan perawat kepadanya. Diwaktu yang sama kapten bajak laut ditangkap oleh angkatan laut Amerika untuk menyerahkannya ke Departemen Kehakiman dan membawa kapten bajak laut ke Amerika untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

konsensus


DEFINISI KONSENSUS

Konsensus adalah sebuah frasa untuk menghasilkan atau menjadikan sebuah kesepakatan yang disetujui secara bersama-sama antarkelompok atau individu setelah adanya perdebatan dan penelitian yang dilakukan dalam kolektif intelijen untuk mendapatkan konsensus pengambilan keputusan. Konsensus yang dilakukan dalam gagasan abstrak, tidak mempunyai implikasi terhadap konsensus politik praktis akan tetapi tindak lanjut pelaksanaan agenda akan lebih mudah dilakukan dalam memengaruhi konsensus politik.
Konsensus bisa pula berawal hanya merupakan sebuah pendapat atau gagasan yang kemudian diadopsi oleh sebuah kelompok kepada kelompok yang lebih besar karena bedasarkan kepentingan (seringkali dengan melalui sebuah fasilitasi) hingga dapat mencapai pada tingkat konvergen keputusan yang akan dikembangkan.

TEORI KONSENSUS

Tokoh sosisologi yang dikenal dengan teori konsensus adalah Emile Durkheim, karenaia banyak berbicara tentang solidaritas sosial dalam masyarakat berdasarkan nilai-nilai moralitas dan agama.
Berdasarkan konsep solidaritas sosial sebagai wujud konsensus masyarakat, maka hubungan individu dibangun sesuai dasar-dasar moral, agama, kepercayaan, trasisi atauadat istiadat yang sudah diakui serta dianut oleh masyarakat. Secara antropologis, Durkheim melihat perlunya alat perekat solidaritas atas dasar konsensus masyarakat yana bisa mewujudkan integrasi, dalam hal ini adalah paham-paham kolektif, yang bersumber dari paham-paham individual. Melalui proses internalisasi, sosialisasi, institusionalisasi dan sangsi-sangsi sosial, paham individual berkembang serta diakui menjadi paham kolektif yang pada akhirnya bisa menjadi kekuatan memaksa. (Prof. Dr. H. Abdullah Ali, 2007)

KONSEP KONSENSUS DALAM PARADIGMA SOSIOLOGI

Sebuah paradigma merupakan gambaran dasar dari pokok perhatian dalam sebuah ilmu. Paradigma adalah konsensus yang terluas di dalam sebuah ilmu dan berfungsi untuk membedakan sebuah komunitas ilmiah dari yang lain. Lebih lanjut, George Ritzer memaparkan beberapa fungsi paradigma, yakni; mendefinisikan apa yang harus dikaji, pertanyaan apa yang harus ditanyakan, bagaimana untuk menanyakannya, kaidah-kaidah apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang didapatkan. (Ritzer, 2012: 1151) Paradigma mencakup elemen-elemen penting yang membangunnya. Elemen termaksud ialah; teori, subject matter, metode, dan eksemplar. Teori meliputi konsep, variabel, dan proposisi. Subject matter adalah apa yang dikaji dalam ilmu tersebut. Metode adalah cara pengkajian, termasuk instrumen di dalamnya. Kemudian eksemplar adalah karya ilmiah yang menjadi model.
Ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan paradigmatik dalam sosiologi :
1.    perbedaan pandangan pandangan filsafat yang mendasari pemikiran masing-masing sosiolog tentang pokok persoalan yang semestinya dipelajari sosilogi.
2.   Akibat logis yang pertama, maka teori-teori yang dibangun dan dikembangkan masing-masing komunitas ilmuwan berbeda.
3.    Metode yang dipakai untuk memahami dan menerangkan substansi disiplin inipun berbeda. Atas dasar perbedaan pandangan mengenai apa yang semestinya dipelajari dalam sosiologi itulah terdapat tiga paradigma sosiologi dewasa ini yaitu, paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial.

PARADIGMA FAKTA SOSIAL

Paradigma fakta sosial pada dasarnya sejalan dengan organisisme sosial, yang menganggap bahwa masyarakat atau kelompok masyarakat ibarat satu tubuh. Dalam satu tubuh, sel yang satu dengan sel yang lain saling melengkapi, kendati memiliki peran yang beragam. Pendekatan organis yang masih terlalu filosofis tersebut, diteoretiskan dalam fungsionalisme struktural. Ide pokok kaum fungsionalis strukturalis ialah bahwa kelompok sosial merupakan suatu sistem yang diikat oleh konsensus. Di dalam setiap sistem pun senantiasa terjadi konflik. Bahkan dalam perspektif Dahrendorf, sistem justru lahan utama bagi konflik. Setiap individu atau kelompok yang tidak terhubung dalam sistem tidak akan mungkin terlibat dalam konflik. (Susan, 2009: 49) Begitu pula dalam keluarga, yang merupakan suatu sistem dengan ciri khasnya berupa pola dan konsensus. Setiap keluarga memiliki pola tersendiri dan konsensus yang berbeda dari keluarga lainnya. Kendati demikian kedua elemen termaksud tetap harus ada sebagai fondasi sistem. Sepakat pula dengan Ralf Dahrendorf bahwa setiap sistem, dalam hal ini keluarga, selalu terjadi konflik di dalamnya. Resolusinya adalah dengan menganalisa peran tiap anggota, kemudian membentuk konsensus baru.

PARADIGMA DEFINISI SOSIAL

Paradigma Definisi Sosial menempatkan pokok persoalan sosiologi adalah proses pendefinisian sosial dan akibat-akibat dari suatu aksi serta interaksi sosial. Exemplar paradigma ini adalah karya Max Weber tentang tindakan sosial (social action) Paradigma Definisi Sosial secara pasti memandang manusia sebagai orang yang aktif menciptakan kehidupan sosialnya sendiri. Ada tiga teori yang termasuk dalam paradigma ini yaitu : teori aksi sosial, teori interaksionisme simbolik dan teori fenomenologi.
1.    Teori Aksi, tokoh yang terkenal pada teori ini adalah Max Weber.  Asumsi pada teori ini menyatakan bahwa :
-        tindakan manusia muncul dari kesadarannya sebagai subjek atau individu yang memiliki kesadaran.
-        Sebagai subjek, manusia bertindak untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
-        Kelangsungan tinfakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tida bisa diubah oleh diri manusia itu sendiri. sebuah tindakan individu itu berlangsung terus menerus hingga ada halangan serius yang membuat individu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
-        Individu memiliki kemampuan memilih, menilai dan mengevaluasi tindakan yang akan, sedang dan telah dilakukannya.
-        Pertimbangan-pertimbangan moral, ekonomi dan sosial biasanya muncul pada saat pengambilan keputusan.
2.   Teori Interaksionisme Simbolek, teori ini menyatakan bahwa dalam  berinteraksi manusia atau individu tersebut tidak hanya memberi reaksi terhadap tingkah laku atau perbuatan individu lain, melainkan lebih menafsirkan atau menginterpretasikan terlebih dahulu sebelum bertindak. Disinilah letak perbedaan manusia/individu dengan hewan. Menurut teori ini, reaksi pada diri manusia / individu terjadi melalui 3 tahap yaitu aksi, interpretasi dan reaksi.
3.    Teori Fenomenologi, teori ini menyatakan bahwa manusia/ individu bisa menciptakan dunia sosialnya sendiri dengan memberikan arti kepada perbuatan-perbuatan tersebut. Teori ini muncul sebagai reaksi atas anggapan yang memandang bahwa manusia / individu  dibentuk oleh kekuatan-kekuatan sosial yang mengitarinya.

PARADIGMA PERILAKU SOSIAL

Paradigma Perilaku Sosial menempatkan pokok persoalan sosiologi ialah perilaku dan perulangannya. Bagi paradigma ini perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan. Ada dua toeri yang termasuk dalam paradigma ini yaitu teori sosiologi behavioral dan teori pertukaran (exchange theory) (cari penjelasannya terotinya). Paradigma Perilaku Sosial lebih banyak menggunakan metode eksprimen dalam penelitiannya.



analisis film

–Captain phillips-


Film yang berjudul  Captain Phillips ini kami ambil sebagai sampel salah satu dari banyak contoh film yang berkaitan dengan teori konsensus yang dibahas. Asalan kami mengambil film ini karena sepanjang cerita dalam film ini cukup banyak menampilkan situasi dimana suatu kelompok sosial melakukan kesepakatan-kesepakatan yang disetujui  bersama-sama antarkelompok atau individu stelah adanya konsensus pengambillan keputusan. Misalnya saat adegan pembajakan pertama para bajak laut yang membuat para kru panik, dan saling menggerutu karena merasa posisi mereka sedang tidak aman. Lalu sang kapten memberikan kesepakatan dengan tujuan untuk meredakan kepanikan para krunya yaitu dengan cara meyakinkan mereka bahwa mereka akan segera mendapatkan penerbangan pertama menuju kampung halaman masing-masing setelah mereka sampai di Mombasa. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa terjadi sebuah kesepakatan antara kapten Phillips dengan para kru. Kemudian antara kapten bajak laut dengan kapten Philips, antara kelompok kapten Phillips dengan kelompok Kapten bajak laut. lalu terjadi beberapa konflik. Konflik yang terjadi ini sedikit berkaitan dengan teori konflik. Konflik adalah pejuangan mengenai nilai serta tuntutan atas status, kekuasaan dan sumber daya yang brsifat langka dengan maksud menetralkan, mencederai atau melenyapkan kawan.
George Vold, berpendapat bahwa setiap orang itu pada hakikatnya mempunyai kepentingan yang sama dalam bersatu untuk membentuk sebuah kelompok dalam upaya mendorong kepentingan mereka ini dalam arena politik. Gagasan Vold menerangkan bahwa tiap-tiap kelompok mempunyai berbagai kepentingan dan sering sekali yang bertentangan sehingga dapat menimbulkan konflik. Ketika kelompok tersebut mempunyai kepentingan yang sama, maka konflik dapat diselesaikan melalui kompromi yang memberikan stabilitas kepada sebuah masyarakat. Namun, ketika kelompok tersebut mempunyai kekuatan yang berbeda, maka satu kelompok tersebut bisa menang dengan kekuatan penuh dari negara untuk meaksanakan kepentingan kelompok itu.
Berbicara mengenai konflik yang berkaitan tentang konsensus, dalam buku karangan (Saifunddin, 2006), Emile Durkheim memandang tujuan dari tindakan moral adalah melestarikan masyarakat. Suatu tindakan moral harus mengikuti aturan untuk memenuhi kepentingan pelakunya. Oleh karena aturan-aturan moral itu dimiliki bersama oleh para anggota suatu masyarakat.. Durkheim mengatakan bahwa konsensus moral adalah kondisi yang diperlukan bagi mewujudkan keteraturan sosial adalah salah satu postulat teori sosial fungsional. (Alfinuha, 2014)
Alur cerita film ini praktis hampir seluruhnya adalah di atas laut. Ditampilkan secara detail tentang bagaimana sikap seorang kapten kapal senior dan berpengalaman (Kapten Phillips diperankan oleh Tom Hanks) dalam menghadapi tekanan dan sikap tak sabar empat bajak laut Somalia yang berhasil naik ke atas kapal. Bagaimana hebatnya mereka bertahan untuk tidak membuat keselahan sekecil apapun, mengingat moncong senapan senantiasa terarah di depan wajah mereka. Dalam situasi seperti ini memang penting diingat untuk tidak berusaha menjadi pahlawan dengan cara melawan secara membabibuta.
Sepanjang film ini dipenuhi dengan adegan drama bagaimana kapten Phillips  berjuang melawan  bajak laut, baik secara akal maupun secara mental. Sebelum empat bajak laut asal Somalia itu berhasil naik ke atas kapal, Captain Phillips dan awak kapal Maersk Alabama berhasil membuat satu boat milik para pembajak berbalik arah, lantas lari tunggang langgang karena diperdaya kapten dengan komunikasi rekayasa, seakan-akan sudah berhubungan dengan militer dan mereka akan segera di tolong oleh pasukan tempur Amerika.
Intensitas film ini sangat terjaga dengan mantap mulai dari awal hingga akhir cerita. Pemilihan pemainnya sangat tepat, pengambilan gambarnya sangat bagus, serta penulisan cerita yang juga amat mengagumkan. Adegan-adegan penutup film ini, membuktikan bahwa memang benar Tom Hanks adalah salah satu aktor terbaik yang pernah ada.


SUMBER :

Alfinuha, S. (2014, 05 15). Konsensus dan Konflik. Dipetik 10 21, 2014, dari Kompasiana Sosbud: http://m.kompasiana.com/post/read/655621/2/konsensus-dan-konflik.html
Prof. Dr. H. Abdullah Ali, M. (2007). Sosiologi Pendidikan dan Dakwah. Cirebon: Stain Press Cirebon.
Saifunddin, A. (2006). Antropologi Kontmporer; Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paadigma. Jakarta: Prenada Media Group.
http://www.academia.edu/2304599/Paradigma_Sosiologi

review film : Captain Phillips (west movie)

Posted by : Maharanisme
Date :Kamis, 27 November 2014
With 0komentar

review jurnal Gambaran Pertemanan Anak ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) dengan Teman Sebaya Di Jakarta

|
Baca selengkapnya »

IDENTITAS JURNAL


1.    Judul                                  : Gambaran Pertemanan Anak ADHD (Attention
   Deficit/Hyperactivity Disorder) Dengan Teman Sebaya Di
   Jakarta
2.    Penulis                               : Rosita
3.    Nama Jurnal                      : Jurnal Psikologi Universitas Paramadina
4.    Tahun Publikasi                 : Desember 2012

Dari jurnal ini penulis memaparkan tentang gambaran Pertemanan Anak ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) Dengan Teman Sebaya Di Jakarta. Dalam jurnal ini penulis menjelaskan bahwa anak yang menderita ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder)  mengalami kesulitan dalam kemampuan sosial. Anak ini biasanya bersekolah di tempat-tempat pendidikan khusus sesai dengan kebutuhannya.
Dalam penjabarannya, penulis menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan lebih untuk berinteraksi dengan teman sebayanya saat anak tersebut menginjak masa remaja, dimana seorang anak mamasuki tahap yang penting dalam bersosialisasi, tidak terkecuali  Anak ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder). Kendati demikian, pada masa remaja anak yang menderita ADHD dalam memenuhi kebutuhan sosialnya, cenderung ditolak secara sosial oleh teman sebayanya di sekolah.
Dalam menunjang penulisannya tentang pertemana anak-anak ADHD terhadap teman sebaya, penulis mengambil teori tentang pertemana yang dijabarkan oleh Ali (2004), Park dan Burges, dan keith Davis (dalam Devito, 1986) yang mengemukakan 8 karakteristik terhadap pertemanan yaitu Enjoyment; Acceptancce; Trust; Respect; Mutual Assistance; Confiding; 7 Understanding, dan; Spontaneity.
Seorang tokoh John M. Reisman (Dalam Devito, 1986) membagi tipe-tipe pertemanan menjadi tiga tipe, yaitu :
1.     Reciprocity, melambangkan tipe pertemanan yang memiliki karakteristik setia, murah hati. Terciptanya pertemanan ini didasarkan pada keseimbangan, dimana tiap individu berbagi secara adil dalam hal memberi dan menerima keuntungan yang ada dalam sebuah hubungan.
2.   Receptivity, yaitu tipe pertemanan yang dikarakteristikan dengan adanya   ketidakseimbangan dalam hal memberi dan menerima dalam sebuah hubungan yang terjadi.
3.    Association, yaitu penggambaran sebuah hubungan yang bersahabat namun bukan sebuah hubungan pertemanan yang sesungguhnya.
Dalam penulisan ini terdapat pemikiran tentang fungsi  teman sebaya yang di kemukakan oleh Santosa (2004). Beliau memaparkan fungsi teman sebaya diantaranya berfungsi dalam mengajarkan kebudayaan; mengajarkan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin; mengajarkan mobilitas sosial; menyediakan peranan-peranan sosial yang baru; berfungsi sebagai sumber informasi; serta fungsi dari kelompok sebaya yaitu membantu anak untuk terlepas dari oarng-orang  dewasa.
Penjabaran penulis mengenai anak berkebutuhan khusus atau luar biasa menyatakan bahwa anak yang berkebutuhan khusus adalah anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal, baik penyimpangan terhadap ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, fisik, dan neuromuscular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi. Penjelasan ini penulis kutip dari Mangunsong (2009). Dalam pendidikannya, anak berkebutuhan khusus memerlukan pendidikan khusu/ luar biasa karena mereka tampak berbeda dari siswa pada umumnya dalam satu hal atau lebih seperti memiliki keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar atau gangguan atensi, gangguan emosi atau perilaku, hambatan fisik, hambatan komunikasi, autisme, hambatan pendengaran dan penglihatan. Pernyataan ini sama halnya dalam kutipan oleh Papalia (2003) yang dikutip penulis menyatakan bahwa remaja awal (sekitar 11 atau 12-14), berkesempatann untuk mengalami pertumbuhan yang meliputi dimensi fisik, kognitif dan sosial, otonomi, self esteem, dan keintiman. Dalam tahap ini beberapa remaja mengalami kesulitan dalam menangani perubahan dan mengatasi bahaya yang terjadi pada dirinya. Menurut penulis, kesulitan ini merujuk pada anak-anak berkebutuhan khusus karena anak berkebutuhan khusus ini memerlukan perhatian khusus dalam menangani perubahan dan permasalahan dalam hidupnya. Mengenai gambaran pertemanan anak berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan umum di Jakarta. Penulis memaparkan bahwa penyebab terjadinya ADHD yaitu karena kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif yang menyebabkan penurunan aktifitasnya (APA, 2000 dalam Kring 2010).
Adapun metode penelitian yang digunakan penulis dalam menangani pembahasan tentang ialah metode kualitas dengan menggunakan wawancar dan observasi. Dalam proses pengumpulan data penulis menggunakan teknik wawancara. Metode yang digunakan adalah behavioral checklist. Dalam penulisan ini, penulis menggunakan model penelitian  adalah studi kasus (case study). Jenis studi yang digunakan adalah jenis studi kasus  intrinsic (instrinsic case study). Adapun metode pengambilan sampel yang digunakan penulis pada penelitian ini adalah purpose sampling.
Setelah melakukan penelitian mengenai Gambaran Pertemanan Anak ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder), penulis menarik kesimpulan dari penelitian ini bahwa makna teman bagi anak ADHD mengaku mempunyai teman dekat. Anak ADHD memaknai teman sebagai individu yang selalu mengajak ia untuk melakukan sesuatu, mengajak anak ADHD ke tempat-tempat yang ia sukai, dan bermain bersamanya. Hasil tambahan, yaitu anak ADHD juga berteman dengan anak-anak yang dibawah umurnya. Dan yang peling utama adalah adanya peran orang tua  sangat dibutuhkan dalam perkembangan pertemanan anak ADHD, karena peran orang tua pada perkembangan pertemanan anak-anak berfungsi sebagai pembimbing dan teman anak untuk bercerita jika anak ada masalah.
Menurut saya dalam penulisan ini, kelebihan yang dapat saya kutip salah satunya dari segi pemaparan masalah. Penulis menjabarkan gambaran-gambaran, pendekatan-pendekatan serta karakteristik pertemanan pada anak ADHD sudah sangat spesifik.

Fenomena addiction yang terjadi sebagai dampak interaksi manusia dan internet

|
Baca selengkapnya »
Fenomena addiction yang terjadi sebagai dampak interaksi manusia dan internet

Seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, perkembangan teknologi dari tahun ke tahun semakin canggih. Siklus perputaran informasi yang tercipta berputar sangat pesat. Informasi atau ilmu dalam bentuk apapun dapat diperoleh dalam hitungan menit, bahkan detik. Pada perputaran aliran informasi yang cepat ini, muncul lah ide-ide untuk saling menghubungkan antara satu orang dengan orang yang lainnya tanpa harus terbatas oleh jarak, ruang dan waktu.. Kecanduan adalah suatu kondisi dimana seseorang melakukan sesuatu secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang cukup lama walaupun konsekuensi yang diterima merugikan diri sendiri. Penggunaan internet yang begitu intens merupakan sebuah tanda-tanda kecanduan seseorang terhadap internet.

Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet merupakan suatu gangguan psikofisiologis pada seseorang. Kriteria seseorna yang mengidap gangguan ini meliputi ;
-        Tolerance, yaitu penggunaan internet untuk mendapaatkan kepuasan dan mengurangi efek keinginan terus-menerus memakai internet. Secara nyata mengurangi efek keinginan tersebut dengan melanjutkan pemakaian internet dengan waktu yang sama terus-menerus;
-  Whithdrawal symptoms, khususnya menimbulkan termor, kecemasan, perubahan mood, kesulitan untuk menghentikan atau mengurangi pemakaian internet, agitasi psikomotor, secara obsesif memikirkan tentang apa yang sedang terjadi di internet, fantasi atau mimpi tentang internet, sengaja atau tidak sengaja menggerakkan jari-jari seperti gerakan sedang mengetik dengan komputer.
-   Sering menghabiskan waktu mengakses internet lebih lama dari yang direncanakan (kehilangan orientasi waktu).
-       Gagal mewujudkan keinginan untuk mengurangi atau mengontrol pemakaian internet.
-        Gangguan afeksi, meliputi depresi dan sulit menyesuaikan diri;
-    Terganggunya kehidupan sosial terutama hubungan antara keluarga, lingkungan dan pekerjaan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
-      Menghabiskan banyak waktu dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan internet (misalnya membeli buku-buku tentang internet, mencoba-coba browser WWW baru dan lain sebagainya).
-    Tetap menggunakan internet secara berlebihan meskipun sudah meiliki pengetahuan mengenai dampak-dampak negatif dari pemakaian secara berlebihan.

Internet addiction diartikan sebagai sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya. Keterikatan seseorang pada kebiasaan yang sangat kuat tersebut membuat seseorang tak mampu lepas dari keadaan itu. Hal-hal sedemikian meliputi segala macam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi online, online shop, game online, chatting dan lain-lain. Saat online, orang-orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas depresi, atau hampa ketika kebiasaan online nya tidak terenuhi.

Berdasarkan pemaparan diatas, makan dapat disimpulkam bahwa internet addiction adalah penggunaan internet yang bersifat patologis, yang ditandai dengan ketidakmampuan individu untuk mengontrol waktu menggunakan internet, merasa dunia maya lebih menarik dibandingkan kehidupan nyata, dan mengalami gangguan dalam hubungan sosialnnya.

Menurut Kimberly S. Young, et. Al. (2006), terdapat sub-sub tipe dari internet addiction antara lain :
1. Cybersexual Addiction
               Yang  termasuk dalam cybersexual addiction yaitu individu-individu yang secara                              kompulsif mengunjungi website-sebsite khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang                        berkaitan dengan seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam                                       pengunduhan dan distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa. 
           2. Cyber-Relationship Addiction
               Kecanduan ini mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara                       online. Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room dan                   seringkali menjadi terlalu terlibat dalam hubungan pertemanan online atau terikat dalam                perselingkuhan virtual.
           3. Net Compulsions
               Sub tipe dalam net compulsions misalnya perjudian online, belanja online dan                                 perdagangan online.
           4. Information Overload
                Information overload mengacu pada web surfing yang bersifat kompulsif.
           5. Computer Addiction
               Misalnya seperti bermain game yang bersifat obsesif.

Beberapa penyebab seseorang bisa kecanduan pada internet biasanya karena adanya kepuasan yang tidak didapat oleh pengguna internet di dunia nyata. Kebanyakan dari mereka terperangkap pada aktivitas negatif seperti games, judi dan sex online, sehingga mereka dapat hal-hal yang lebih penting di kehidupan nyata mereka. Ferris mengungkapkan penyebab seseornag mengalami internet addiction dilihat dari berbagai pandangan, antara lain :

1.    Pandangan behavioris
Dalam teori B.F Skinner mengenai operant conditioning, dimana individu akan mendapat reward positif, negatif atau hukuman atas apa yang dilakukannya.
2.    Pandangan psikodinamika dan kepribadian
Pandangan ini memandang bahwa addiction berkaitan antara individu tersebut dengan pengalamannya. Tergantung pada kejadian masa anak-anak yang dirasakan individu tersebut saat masih anak-anak dan perkembangan kepribadiannya yang nanti nya juga akan mempengaruhi perkembangan prilaku addictive ataupun yang lainnya.
3.    Pandangan sosiokultural
Pandangan ini menunjukkan ketergantungan tersebut dipandang dari segi ras, jenis kelamin, umur, status ekonomi, agama dan negara.
4.   Pandangan biomedis
Pandangan ini menekankan pada adanya faktor keturunan dan kesesuaian, antara keseimbangan kimiawi antara otak dan neurotransmitter. Dalam hal ini menunjukkan dimana ketergantungan seorang pasien pada obat-obatan yang berguna sebagai penyeimbangan zat kimia pada otaknya, atau individu yang memiliki kecenderungan terlibat dalam perjudian.



SUMBER :
http://more23dy.blogspot.com/2014/06/fenomena-adiksi-yang-terjadi-sebagai.html




Next Prev
▲Top▲