Newest Post

BELAJAR

| Selasa, 18 November 2014
Baca selengkapnya »
BELAJAR

Belajar merupakan salah satu proses yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya. Belajar adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja yang dapat menimbulkan tingkah laku, baik yang nyata maupun tidak tampak. Perubahan yang dihasilkan tersebut bersifat positif dan berlaku dalam waktu yang relatif lama.

Proses yang terjadi pada seseorang megakibatkan perubahan perilaku baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perubahan perilaku bisa aktual, bisa pula potensial. Potensial berarti perubahannya belum tampak secara nyata, namun akan nampak di waktu lain.

Ada beberapa faktor yang mendukung proses pembelajaran pada seseorang yaitu faktor inter dan eksternal. Dimana faktor ini berfungsi sebagai peninjauan hasil belajar seseorang. Faktor-faktor yang positif akan mendukung hasil belajar yang positif juga. Sebaliknya faktor negatif, akan menyebabkan hasil belajar yang buruk pula.

Belajar adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja yang dapat menimbulkan tingkah laku, baik yang nyata maupun tidak tampak. Perubahan yang dihasilkan tersebut bersifat positif dan berlaku dalam waktu yang relatif lama.

Belajar merupakan suatu proses yang megakibatkan perubahan perilaku baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perubahan perilaku bisa aktual, bisa pula potensial. Potensial berarti perubahannya belum tampak secara nyata, namun akan nampak di waktu lain.
Belajar merupakan salah satu proses yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya. Dimana belajar ini merupakan proses membangun makna atau pemahaman terhadap informasi dan atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Selama proses itu berlangsung semua informasi yang masuk disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan seseorang. Hal ini dapat dibuktikan, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas aau hak siswa dalam membangun gagasannya.
Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, “Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?” Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, “Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”. 
Banyak opini-opini yang diberikan para ahli tentang belajar. Misalnya Cronbach, beliau mendefinisikan bahwa “learning is shown by a change in behavior as a result of ecperience” yaitu Belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku individu sebagai hasil pengalamannya. Pendapat lain tentan gbelajar dikemukakan oleh Gage (1984), mengartikan belajar sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya. Harold Spears mengatakan bahwa “learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction” yaitu belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan. Adapun Geoch, menegaskan bahwa “learning is a change in performance as result of practice” yaitu belajar adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik.
Kemudian Ratna Willis Dahar (1988: 25-26) juga memaparkan pendapatnya yaitu, “belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman”. Menurutnya ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar, antara lain sebagai berikut :
1.    Pertama, pada tingkat emosional yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden, dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.
2.      Kedua, belajar kontiguitas, yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini dapat menyebabkan belajar dari ‘drill’ dan belajar stereotipe-stereotipe.
3.      Ketiga, kita belajar bahwa konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut belajar operant.
4.    Keempat, pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model bagi orang lain dalam belajar observasional.
5.    Kelima, belajar kognitif terjadi dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.
Jadi, berdasarkan deskripsi di atas, ‘belajar’ dapat dirumuskan sebagai proses siswa membangun gagasan/pemahaman sendiri untuk berbuat, berpikir, berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru; baik melalui pengalaman mental, pengalaman fisik, maupun pengalaman sosial.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

       1.    Internal

Merupakan faktor yagn berasala dari individu yang meliputi faktor:
a. Fisiologis, meliputi kondisi jasmani, fungsi alat indera, saraf sentral, dan sebagainya.
b. Psikologis, meliputi minat, motivasi, emosi, intelegensi, bakat, dsb

2.   Eksternal
Merupakan faktor dari luar individu, meliputi faktor:
a. Sosial/lingkungan
                Yaitu pola asuh keluarga, dukungan dari lingkungan sekitar individu, kehadiran seseorang               secara langsung ataupun representasinya (kehadiran hanya dalam pikiran). Misalnya bila                 teringat orang tua maka motivasi untuk menyelesaikan skripsi akan meningkat.
            b. Instrumental
               Meliputi alat perlengkapan belajar, ruang belajar, ventilasi, penerangan , cuaca, materi uang            diberikan, peraturan-peraturan yang mengikat dalam proses belajar (misalnya norma                      masyarakat, aturan dalam sekolah, sistem pendidikan)

Faktor yang positif akan mendukung hasil belajar yag positif. Sebaliknya faktor negatif akan menyebabkan hasil belajar yang buruk pula.

Untuk dapat mengetahui hasil belajrnya, perlu dilakukan evaluasi dengan memberikan umpan balik (feedback). Apabila hasil belajar tidak sesuai dengan harapan, maka kita dapat melakukan perubahan atau oeningkatan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar. Apabila sudah sesuai dengan yagn diharapkan, kia mempertahankan peoses belajar yagn dilakukan.

  Teori-Teori Belajar        

Terdapat beberapa macam teori belajar yang telah dikemukakan berdasarkan percobaan yang tela dilakukan. Beberapa teori belajar tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1.    Teori belajar yang Berorientasi pada Behaviorisme
a.       Teori belajar Asosiatif
Teori ini disimpulkan dari hasil percobaan Pavlov yang menggunakan anjing sebagai percobaan. Awalnya, anjing tidak mengeluarkan air liur ketika bel berbunyi. Lalu, secara terus menerus ketika makanan diberikan ketika bel berbunyi. Ketika makanan tidak diberikan namun bel dibunyikan, anjing tersebut tetap mengeluarkan air liur.

Inti dari pengkondisian klasik adalah memasangkan dua stimulus. Stimulus pertama disebut unconditioned stimulus (US) yaitu stimulus yang menimbulkan respon secara alami. Kemudian ada yang disebut dengan Conditioned Stimulus (CS) yaitu stimulus yang dapat menimbulkan respon khusus. Respon yang sifatnya alami adalah Unconditioned Response dan respon yang dihasilkan oleh Conditioned Stimulus atau dengan kata lain respon bersyarat disebut Conditioned Response (CR).

Dalam percobaannya, Pavlov menggunakan anjing sebagai objek nya. Sebelum percobaan dilakukan, sedikit dilakukan operasi terhadap anjing tersebut agar air liur yang keluar dapat diperhatikan. Anjing secara alami akan mengeluarkan air liur ketika ia melihat makanan. Kemudian, bel dibunyikan bersamaan dengan dikeluarkannya makanan. Hal ini dilakukan berkali-kali dan anjing itu akan mengeluarkan air liur. Ketika bel dibunyikan tanpa makanan, anjing tetap akan mengeluarkan air liur.

Pavlov menyebut respon anjing tersebut sebagai respon yang dikondisikan (CR). Anjing telah diajarkan untuk mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan. Secara alami ia akana mengeluarkan air liur ketika ada makanan (UR). Makanan, dalam percobaan ini, merupakan Unconditioned Stimulus (US) dan bel yang berbunyi sebagai Conditioned Response (CR). Apabila repon bersyarat (CR) telah terbentuk dan stimulus bersyaratnya (CS) tidak dipasangkan dengan stimulus tidak bersyarat (US) maka respon bersyarat akan melemah atau bahkan menghilang (extinction).

Peristiwa ini disebut sebagai conditioning atau pengkondisian, yaitu pemberian stimulus berbentuk makanan bersamaan dengan bunyi bel. Ini berarti terjadi asosiasi antara stimulus dengan responnya. Pavlov menyimpulkan bahwa perilaku dapat dibentuk melalui kebiasaan.

Dalam kehidupan sehari-hari teori ini dapat diaplikasikan misalnya pada anak agar ia membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan.

b.      Teori Belajar Fungsionalistik
Teori ini disimpulkan berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh B.F. Skinner. Faktor utama dalam Operant Conditioning/Instrumental Conditioning adalah “reinforcement”, yaitu stimulus atau situasi yang dapat menguatkan respons yang muncul. Inti dari Operant Conditioning terletak pada penggunaan perilaku organisme sebagai “alat” atau instrumen untuk mengubah lingkungan sehingga menghambat perilaku yang diinginkan dan memperlancar perilaku yang diinginkan.

Dalam percobaan yang dilakukannya, Skinner memiliki dua istilah yaitu Perilaku Respon dan Operan. Perilaku Respon adalah respon langsung pada stimulus.Perilaku  Operan adalah perilaku yang dikendalikan sebagai akibat dari perilaku respon. Reinforcment berfungsi untuk menguatkan perilaku operan yang diinginkan.jadi, proses belajar Operant Conditioning adalah proses pengontrolan tingkah laku melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif bebas.

Percobaan yang dilakukan Skinner adalah dengan memasukkan tikus ke dalam “Kotak Skinner”. Di dalam kotak tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah pengungkit. Di bawahnya terdapat piring makanan. Sebuah lampu kecil di atas jeruji dapat dinyalakan sesuai keinginan eksperimenter. Tikus dibiarkan sendirian dalam kotak. Tikus tersebut lalu menjelajahi kotak tersebut terkadang melewati pengungkit. Setiap kali tikus menekan pengungkit, maka makanan akan keluar dan tikus bisa memakannya. Makanan berfungsi sebagai reinforcement. Proses diskriminasi juga bisa dilakukan. Caranya adalah memasangkan pengungkit dengan lampu, sehingga makanan akan keluar apabila  lampu menyala dan pengungkit kemudian ditekan. Dengan demikian terbentuk penguatan selektif yan gmengondisikan tikus bahwa agar makanan keluar, pengnungkit harus ditekan dengan lampu yang menyala.

Dalam operant conditioning ada yang disebut dengan reinforcer atau reinforcement. Reinforcement adalah situasi atau stimulus yang dapat menguatkan respons yang muncul. Reinforcment dapat dibedakan atas:
·         Primary Reinforcer adalah reinforcement paling efektif bagi subjek yang belum terlatih, artinya tidak dibutuhkan suatu latihan awal untuk memperkuat suatu respon.
·         Secondary reinforcement adalah reinforcement yang tidak dapt berfungsi sebagai penguat alami. Agar reinforcment tersebut efektif, diperlukan pengalaman dulu. Maka dari itu, reinforcement ini disebut learned reinforcment (penguat yang dipelajari).

Dalam percobaan Skinner, makanan adalah primary reinforcer dan lampu sebagai secondary reinforcement.

Selain reinforcement, terdapat teknik lain dalam operant conditioning diantaranya:
·    Reinforcement positif adalah stimulus yang mengikuti suatu respon yang akan meningkatkan kecenderungan pengulangan suatu respon.
· Reinforcement negatif adalah penghilangan stimulus yang tidak meyenangkan yang mengikuti suatu respon sehingga ada kecenderungan perilaku tersebut muncul kembali. Kata negatif menunjukkan respon yang muncul menyebabkan hilangnya suatu peristiwa atau kondisi yang tidak menyenangkan.
·  Punishment (hukuman) adalah stimulus yang bila dihadirka bersamaan dengan munculnnya suatu repson akan mengurangi dan bahkan menghilangkan suatu respon.
·      Omission of reinforcement atau omission training yaitu penarikan kembali reinforcement positif saat respon dilakukan dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan reonforcement posotif. Contohnya adalah orang tua mematikan televisi agar anaknya belajar.

2.   Teori Belajar yang Berorientasi pada Kognitif
a.       Trial and Error
Thorndike melakukan percobaan terhadap kucing yang dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Di dalam sebuah kotak tersebut terdapat pintu yang akan terbuka bila pengungkit dalam kotak tersebut disentuh. Di luar kotak diletakkan makanan. Oleh karena itu, kucing yang lapar baru dapat makanan bila ia menyentuh pengungkit dan keluar dari kotak.

Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Thorndike menyimpulkan beberapa hukum dalam belajar, sebagai berikut:
·         The Law of Readiness (Hukum Kesiapan)
Jika suatu organisme didukung kesiapan kuat  untuk mendapat stimulus maka tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung dipekuat.
·         The Law of Exercise (Hukum Latihan)
Semakin sering tingkah laku di ulang,  maka  asosiasi tersebut semakin kuat.          
·         The Law of Effect (Hukum Akibat)
Hubungan stimulus respon cenderung   diperkuat bila  akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah bila akibatnya tidak  memuaskan. Hukum ini terdiri dari tiga hukum utama, yaitu:
o   Apabila individu sudah siap melakukan sesuatu dan diberi kesempatan untuk melakukannya maka akan timbul kepuasan.
o   Apabila individu sudah siap melakukan sesuatu tetapi tidak diberi kesempatan untuk mealkukannya, maka akan timbl kekecawaan/ketidak puasan dan mendorong individu melakukan aktivitas tertentu sebagai pelampiasan.
o   Apabila individu belum siap melakukan sesuatu tetapi dipaksa melakukan, maka akan timbul perasaan tidak puas dan mendorong individu untuk melakukan tindakan tertentu sebagai pelampiasan rasa ketidakpuasannya.

Selain tiga hukum primer di atas, Thorndike juga mengemukakan lima Hukum Sekunder, yaitu:
·         Law of Multiple Response (Hukum Reaksi Berganda)
Artinya dalam menghadapi stimulus baru, akan dipakai berbagai macam respons sampai diperoleh respons yang tepat.
·         Partial Activity
Kemampuan mengadakan reaksi secara selektif terhadap situasi yang dihadapi.
·         Attitude
Attitude yaitu arah dan bentuk belajar yang kita lakukan dipengaruhi oleh sikap kita.
·         Reaction by Analogy
Untuk mengjadapi situasi baru, individu cenderung melakukan reaksi yang pernah dilakukannya terhadap situasi yang mirip atau sama yang pernah dilakukannya.
Hukum ini dilpakai untuk meyusun hukum mengenai ttransfer dalam belajar yaitu “Theory of Identical Element”. Teori ini menyatakan bahwa bila terdapat elemen yang identik dengan situasi yang dihadapi, semakin besar kemiripan, semakin besar kemungkinan terjadi transfer.
·         The Law of Associative Sheffting
Hukum ini intinya sama dengan pengkondidian (berdasarkan belajar asosiatif).

b.      Insight Learning
Wolfgang Kohler menggunakan simpanse dalam eksperimennya. Pada percobaan pertama, Kohler membuat sebuah sangkar yang didalamnya telah disediakan sebuah tongkat. Simpanse kemudian dimasukkan dalam sangkar tersebut, dan di atas sangkar diberi buah pisang. Melihat buah pisang yang tergantung tersebut, Simpanse berusaha untuk mengambilnya namun selalu gagal. Simpanse mengalami sebuah masalah atau problem yaitu bagaimana cara ia mengambil buah pisang tersebut. Karena didekatnya ada sebuah tongkat maka timbullah pengertian bahwa untuk meraih sebuah pisang harus menggunakan tongkat tersebut.

Pada eksperimen yang kedua masalah yang dihadapi oleh Simpanse masih sama yaitu bagaimana cara mengambil buah pisang. Namun di dalam sangkar tersebut diberi dua tongkat. Simpanse mengambil pisang dengan satu tongkat, namun selalu mengalami kegagalan karena buah pisang diletakkan semakin jauh di atas sangkar. Tiba-tiba muncul insight (pemahaman) dalam diri Simpanse untuk menyambung kedua tongkat tersebut. Dengan kedua tongkat yang disambung itu, Simpanse menggunakannya untuk mengambil buah pisang yang berada di luar sangkar. Ternyata usaha yang dilakukan oleh Simpanse ini berhasil.

Dalam eksperimen yang ketiga Wolfgang Kohler masih menggunakan sangkar, Simpanse, dan buah pisang. Namun dalam eksperimen ini di dalam sangkar diberi sebuah kotak yang kuat untuk bisa dinaiki oleh Simpanse. Pada awalnya Simpanse berusaha meraih pisang yang digantung di atas sangkar, tetapi ia selalu gagal. Kemudian Simpanse melihat sebuah kotak yang ada di dalam sangkar tersebut, maka timbullah insight (pemahaman) dalam diri Simpanse yakni mengambil kotak tersebut untuk ditaruh tepat dibwah pisang. Selanjutnya, Simpanse menaiki kotak dan akhirnya ia dapat meraih pisang tersebut.

Eksperimen yang keempat masih sama dengan eksperimen yang ketiga, yaitu buah pisang yang diletakkan di atas sangkar dengan cara agak ditinggikan, sementara di dalam sangkar diberi dua buah kotak. Semula Simpanse hanya menggunakan kotak satu untuk meraih pisang, tetapi gagal. Simpanse melihat ada satu kotak lagi di dalam sangkar dan ia menghubungkan kotak tersebut dengan pisang dan kotak yang satunya lagi. Dengan pemahaman tersebut, Simpanse menyusun kotak-kotak itu dan ia berdiri di atas susunan kotak-kotak dan akhirnya dapat meraih pisang di atas sangkar dengan tangannya.

Beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari percobaan Kohler terhadap simpanse adalah sebagai berikut:
·         Insight learning bergantung pada kemampuan dasar. Kemampuan dasar tergantung pada umur, keanggotaan dalam spesies, dan perbedaan individu dalam spesies.
·         Terbentuknya “insight” dipengaruhi pengalaman masa lampau yang relevan.
·         Pembentukan “insight” diidahului proses trial and error.
·         Pemecahan problem dengan “insight” dapat diulangi dengan mudah karena sudah terbentuk pemahaman dalam diri organisme.
·         “Insight” yang sudah diperoleh dapat digunakan untuk menghadapi situasi lain.



Riyanti, B.P. Dwi, dkk. 1996. Seri Diktat Kuliah. Psikologi Umum I, [pdf]. Jakarta: Gunadarma.
Basuki, A.M. Heru. 2008. Seri Diktat Kuliah. Psikologi Umum. Jakarta: Gunadarma

 





PSIKOLOGI DAN INTERNET DALAM RUANG LINGKUP INTRAPERSONAL

| Jumat, 10 Oktober 2014
Baca selengkapnya »
ASPEK PSIKOLOGIS INDIVIDU DARI PENGGUNA INTERNET
Perkembangan teknologi dari tahun ke tahun semakin canggih. Pada Era globalisasi kemajuan teknologi dan informasi telah menimbulkan perubahan mendasar dalam kehidupan manusia. internet merupakan sebuah teknologi informatika yang terpesat perkembangannya. Internet adalah salah satu tonggak kemajuan era teknologi informasi. Istilah internet berasal dari kata Interconection Networking. Teknologi yang berbasis komunikasi jaringan komputer ini mulai dikembangkan pada periode sejak berakhirnya perang dunia II yaitu sejak tahun 1960-an. Berbagai manfaat yang didapat ketika kita menggunakan internet seperti mencari informasi (hosting), berkirim surat (e-mail), berbelanja online (e-commerce), internet banking, belajar jarak jauh (e-learning), mengobrol (chatting). Penggunaan internet lambat laun semakin meluas terutama di bidang kehidupan. Hal ini terjadi karena adanya karakteristik yang saling terhubung sehingga sanggup untuk menjangkau seluruh bagian dunia melalui apa yang dinamakan dengan jaringan komputer. Oleh sebab itulah internet disebut sebagai media yang memungkinkan para penggunanya untuk bisa melakukan segala aktivitas yang bersifat global. Berkembangnya internet disini juga memiliki kaitan-kaitan pada aspek-aspek psikologi yang mana keterkaitannya mempengaruhi identitas diri individu secara nyata maupun virtual dan karakteristik kepribadian, serta berkaitan pada aspek-aspek demografis yang mempertimbangkan gender, usia, budaya dll.
Dewasa ini, semakin banyak media sosial yang menarik perhatian para pengguna untuk bergabung dan terhubung dengan setiap orang yang dapat tergabung dalam media sosial yang sama untuk saling berbagi informasi dan berkomunikasi. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Beberapa media sosial terbesar yang paling sering digunakan oleh kalangan remaja yaitu, Facebook, Twitter, Path, Youtube, Instagram, Kaskus, LINE, Whatsapp dan Blackberry Messenger. Media sosial tersebut mempunyai keunggulan khusus dalam menarik banyak pengguna media sosial yang mereka miliki. Media sosial memang menawarkan banyak kemudahan yang membuat para remaja betah lama-lama berselancar di dunia maya. Media sosial mengajak siapa yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Pembahasan mengenai aspek-aspek psikologis individu dari pengguna internet mungkin bisa kita ambil contoh pada kalangan remaja. Mengapa ? karena kaum remaja lah yang saat ini sangat ketergantungan terhadap media sosial. Kata remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah ini memiliki arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi ata peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak-anak. Masa ini lah yang merupakan masa-masa pencarian jati dirinya. Ketergantungan kaum remaja terhadap media sosial identik dengan smartphone yang hampir 24jam menghabiskan waktu di dunia online yang seakan tidak pernah berhenti dan mengurangi waktu belajar dan waktu ngumpul bersama keluarga. Penggunaan media sosial dikalangan remaja menimbulkan pro dan kontra karena mengganggu proses belajar remaja.  Kalangan remaja menjadi lebih hiperaktif di media sosial dengan memposting kegiatan sehari-hari mereka yang seakan-akan menggambarkan gaya hidup mereke yang mencoba mengikuti perkembangan zaman, sehingga dianggap lebih populer di lingkungannya. Contohnya seperti media sosial Twitter, para remaja menampilkan diri dengan mengunggah avatar yang paling bagus dilihat menurutnya, memposting tweet dan retweet sebanyak-banyaknya dengan tujuan memperlihatkan eksistensinya di dunia maya. Para remaja ini juga berusaha memperlihatkan citra positifnya di Twitter, begitu juga dengan Facebook. Hal ini dapat dikatakan bahwa setiap individu menjadikan media sosial sebagai media presentasi diri. Padahal apa yang mereka posting tidak selalu menggabarkan keadaan sosial life mereka yang sebenarnya. Manusia sebagai aktor yang kreatif mampu menciptakan berbagai hal dala hidupnya salah satunya adalah ruang interaksi dunia maya. Disitu setiap individu mampu menampilkan karakter diri yang berbeda ketika berada di dunia maya dengan dunia nyata. Hal tersebut dalam istilah sosiologi disebut dengan instilah dramaturgi atau presentsi diri untuk menjelaskan bagaimana seseorang menampilkan diri pada lingkungan atau panggung tertentu. Penggunaan media sosial tidak selamanya berdampak baik, ada beberapa dampak negatif dari penggunaan media sosial, antara lain yaitu :
*Dampak Negatif*
1. Mengganggu kegiatan belajar, seperti yang sudah dikatakan tadi seperti notofication chatting dari teman, ngeposting status-status gak jelas, status galau, curhat saat proses belajar berlangsung sangat mempengaruhi proses kegiatan belajar remaja.
2. Bahaya Kejahatan, seperti kasus pornography. Disini kebanyakan para remaja yang kecanduan menggunakan media sosial dijadikan sebagai umpan panas bagi orang-orang yang ingin melakukan tindak krikminal. Seperti kasus pedophilia juga sangat menggencarkan dunia beberapa bulan kebelakang.
3. Bahaya Penipuan, berbagai cara dilakukan orang-orang tak berotak yang berpikiran licik dengan instannya melakukan penipuan berkedok undian berhadiah. Atau apapun cara merekea yang kini sudah semakin canggih bentuk penipuan yang dilakukannya.
4. Tidak semua pengguna media sosial bersifat sopan.
5. Mengganggu kehidupan dan komunikasi keluarga, dengan adanya media sosial yang membuat para pengguna kecanduan membuat hubungan komunikasi keluarga tidak membaik. Seakan-akan jarak yang sangat dekat terasa begitu jauuuuuh.  



Berdasarkan aspek intensitas penggunaan internet, sebagian besar remaja perkotaan lebih sering mengakses internet di warnet meskipun di sekolah mereka terdapat fasilitas internet yang dapat dimanfaatkan secara free (baik di laboratorium komputer atau perpustakaan sekolah). Frekuensi internet yang digunakan bagi remaja perkotaan yang sering mengakses internet di rumah cenderung lebih sering dengan durasi setiap kali mengakses internet lebih lama dibandingkan dengan remaja perkotaan yang sering mengakses internet di tempat lainnya, seperti: warnet, sekolah atau wifi area. Dari jumlah waktu penggunaan internet per bulan menunjukkan bahwa pada umumnya kalangan remaja di perkotaan yang sering mengakses internet di rumah termasuk dalam kategori heavy users (pengguna internet yang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam per bulan). Sedangkan remaja di perkotaan yang sering mengakses internet di warnet dan memanfaatkan wifi area publik sebagai tempat akses internet mereka dikategorikan sebagai medium users (pengguna internet yang menghabiskan waktu antara 10 sampai 40 jam per bulan). Sementara itu, bagi remaja di perkotaan yang sering mengakses internet dengan memanfaatkan layanan internet yang tersedia di sekolah menunjukkan bahwa pada umumnya mereka tergolong sebagai light users(pengguna internet yang menghabiskan waktu kurang dari 10 jam per bulan).
Kalangan remaja di perkotaan menggunakan internet untuk untuk empat dimensi kepentingan, yaitu informasi(information utility), aktivitas kesenangan (leisure/fun activities), komunikasi (communication), dan transaksi(transactions). Meskipun dari keempat kepentingan penggunaan internet tersebut aktivitas-aktivitas internet yang dilakukankalangan remaja di perkotaan lebih banyak ditujukan untuk aktivitas kesenangan (leisure/fun activities) dari pada untuk kepentingan lainnya, namun aktivitas internet yang paling banyak dilakukan mereka adalah mencari sumber atau bahan terkait dengan tugas atau pelajaran sekolah.

ASPEK DEMOGRAFIS INDIVIDU DARI PENGGUNA INTERNET
Aspek demografis adalah aspek yang harus mempertimbangkan gender, usia, budaya dan SES (Sosial –Economic –Status) dalam interaksi individu dan internet.
Situs jejaring sosial memiliki beragam fitur teknis. Namun pada umumnya. Mereka memuat dan memperlihatkan profil penggunya dan melihat daftar teman yang juga merupakan pengguna dalam sistem tersebut. Umumnya profil profil disusun berdasarkan pernyataan yang mengacu pada usia, gender, lokasi dan “about me” biasanya pengguna dapat mengetahui gender pengguna lain berdasarkan nama atau profil yang diunggah pengguna lain. Ini digunakan untuk memperkenalkan dir kepada dunia maya tentang siapa dan bagaiman tentang dirinya.
Berangkat dari dtufi mengenai komunikasi interpesonal dan media, para peneliti telah mengembangkan tipologi untuk berbagai motif dalam penggunaan internet, yaitu :
1.   Kegunaan interpesonal
2.  Mengisi luang waktu
3.  Pencarian informasi
4.  Kemudahan/kenyamanan
5.  hiburan
Diseluruh di dunia, terutama di Indonesia, usia muda adalah usia yang banyak menggunkana internet dan banyak menghabiskan waktu didunia maya dan bersosialisaisi dijejaring sosial seperti facebook, twitter ataupun jaringan sosial yang lain. Pemasar yang ingin memasarkan barang produksi untuk kaula muda dapat memanfaatkan social media sebagai sarana promosi yang sangat ampuh. Contohnnya situs http://www.tokobagus.com/  yang dimana pemasar dapat mempromosikan barang produksinya disitu tersebut.

Sumber :





Dampak IPTEK bagi Kehidupan Manusia

| Minggu, 15 Juni 2014
Baca selengkapnya »


Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau yang sering disebut sebagai IPTEK merupakan sebuah sumber informasi yang dapat memberikan kemudahan kepada manusia dalam meningkatkan pengetahuan di bidang teknologi (Harmoni, 1994). Istilah teknologi berasal dari Techne yang berarti cara dan logos yang berarti pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang cara. Teknologi adalah suatu teknik untuk memproduksi dalam membuat sesuatu yang lebih meningkatkan keterampilan manusia. ada beberapa pendapat mengenai teknologi, pertama Kast dan Rosenweig mengatakan bahwa Technology is the art of utilizing scientific knowledge. Pendapat lain dari Anglin, ia memaparkan bahwa teknologi adalah penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan suatu masalah. Lain dengan yang lain tokoh Iskandar Syahbana(1980:1), beliau merumuskan definisi teknologi secara lebih jelas dan lengkap yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia. Menurut iskandar manusia telah mengenal teknologi sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Sedangkan menurut Jaques Ellul (1967:1967 xxv) teknologi diartikan sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang menggunakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat pakar teknologi dunia terhadap pengembangan teknologi.
Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu
1.    Pesawat terbang,
2.   Maritim dan perkapalan,
3.    Alat transportasi,
4.   Elektronika dan komunikasi,
5.    Energi,
6.    Rekayasa ,
7.    Alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan;
8.   Pertahanan dan keamanan.
Perkembangan IPTEK semakin pesat.  Perkembangan teknologi membawa pengaruh yang cukup besar di berbagai bidang, seperti dibidang pendidikan , politik, ideology, ekonomi, sosial, budaya dan bahkan di kehidupan sehari-hari. Kemajuan IPTEK sangat membantu dan mempermudah kehidupan manusia menjadi lebih efektif dan lebih efisien, namun perkembangan teknologi memiliki dampak yang beragam di kehidupan manusia. manusia seolah-olah bergantung sepenuhnya pada teknologi, yang seakan-akan seperti diperalat oleh kemajuan teknologi tersebut.
Secara umum, teknologi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang meningkatkan nilai tambah, sebagai suatu produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja, serta sebagai suatu struktur atau sistem dimana proses dan produk tersebut dikembangkan dan digunakan. Kemajuan teknologi yang sejalan dengan kemajuan informasi dan ilmu pengetahuan membuat manusia susah untuk menghindar.
Pembahasan mengenai IPTEK sangat luas cakupan nya, secara khusus pembahasan ini dapat dilihat dari aspek penggunaan internet. Terdapat beberapa dampak positif dan negatif dalam penggunaan internet, diantaranya sebagai berikut :

      §      Dampak  IPTEK di bidang Internet

      A. Dampak Positif
         Tiga dampak positif yang dapat diambil            dari penggunaan internet secara menyeluruh, yaitu :

1.   Internet sebagai lahan informasi, informasi adalah sesuatu yang sifatnya tidak terbatas, dengan adanya internet sebagai lahan informasi dapat mempermudah dan membantu user dan masyarakat luas dalam menambah wawasannya mengenai kehidupan dan perkembangan zaman serta informasi yang dibutuhkan. Dengan adanya internet, manusia juga dapat menambah referensi pengetahuan dari berbagai sumber yang nantinya dapat menghasilkan sebuah pemahaman mengenai sesuatu.

2. Internet sebagai media komunikasi, penggunaan internet sebagai media komunikasi sangat membantu manusia untuk saling berinteraksi dan bersosialisasi dan berkomunikasi walaupun dengan jarak tempat yang jeuh sekalipun. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, yaitu tidak dapat hidup sendiri. Oleh karena itu dengan adanya kemajuan IPTEK dalam aspek internet telah memenuhi kebutuhan sosial manusia dalam kehidupannya.

  3. Internet sebagai media pertukaran data,  penggunaan ini dapat diakses melalui  layanan e-mail. Dengan menggunakan  layanan ini manusia dapat menukar    beberapa data penting ke tempat jauh  sekalipun melalui media online tanpa  harus mengantarkan data tersebut ke    alamat tersebut. selain itu internet juga  memberikan kemudahan dalam                                                                      melakukan transaksi.
B. Dampak Negatif
Tiga dampak negatif dari penggunaan internet, yaitu :
1.   Kecanduan, adalah suatu tahap kesukaan yang sudah tidak terkontrol lagi. Efek dari kecanduan ini menyebabkan rusaknya mental perilaku pada tiap individu. Kesehariannya hanya dihabiskan dengan berada di balik layar monitor tanpa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang lebih nyata.
2.  Penipuan, seiring berjalannya pemanfaatan IPTEK di bidang internet sering sekali terjadi penipuan terutama bagi user yang sering memanfaatkan internet untuk berkomunikasi dan transaksi berbisnis.
3.  Pornografi, pengguna internet tidak hanya dinikmati oleh kalangan pekerja dan orang dewasa saja namun kalangan pelajar dan anak-anak juga menggunakan internet. Penggunaan internet bagi kalangan pelajar dan anak-anak yang tidak dalam pengawasan pihak orang tua sangat berakibat fatal. Karena baik di sengaja ataupun tidak pasti banyak hal-hal yang berbau pornografi yang muncul yang nantinya akan merusak mental dan moral dari kehidupan anak-anak dan pelajar.

§      Dampak IPTEK Dalam Aspek Psikologi Manusia

A. Dampak Positif
Perkembangan teknologi yang semakin maju memiliki dampak baik bagi tiap individu. individu merasa senang karena di beri kemudahan dalam memperoleh informasi dengan mudah, individu akan senang karena dapat berinovasi dengan penemuan–penemuan mereka seperti handphone unik, modifikasi laptop, beberapa kendaran dan juga barang-barang antik,  individu akan lebih termotivasi untuk menciptakan sesuatu yang lebih baru yang nantinya akan memicu individu tersebut untuk  lebih kreatif dengan ciptaan–ciptaan yang dapat membantu kinerja manusia, individu juga memiliki jaringan luas yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang lain walaupun dengan jarak tempat yang jauh sekalipun.
B. Dampak Negatif
Ketergantungan, media computer memiliki kualitas atraktif yang dapat merespon segala stimulus yang diberikan oleh pengguna. Sehingga pengguna seakan-akan menemukan dunia barunya. Ketergantungan ini masih bisa diminimalisir dengan pengawasan dari orang tua, dan memperbanyak kegiatan-kegiatan diluar rumah, bermain dengan teman, dan menyibukan diri sehingga kegiatan didepan komputer semakin berkurang. Antisocial Behavior, dapak yang ditimbulkan salah satunya adalah antisocial behavior, keadaan dimana pengguna tidak lagi peduli dengan lingkungan sosialnya pengguna lebih mengutamakan teknologi yang dimilikinya. Pengguna akan menjadi jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga kemampuan interpersonal dan emosionalnya tidak berkembang secara optimal.

§      Dampak IPTEK Di Bidang Pendidikan

A. Dampak Positif
Perkembangan teknologi juga berpengaruh pada dunia pendidikan. Dengan teknologi pendidikan menjadi lebih mudah. Tidak perlu harus bertatap muka, bertemu dikelas kita pun sudah bisa mendapatkan pendidikan. Banyak di negara-negara maju sudah menerapkan sistem e-learning, jarak dan ruang sudah bukan menjadi suatu masalah dalam sistem e-learning.
E-Learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang berlandaskan 3 (tiga) kriteria yaitu :
1.   E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
2.  Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet standar, dan ;
3.  Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran dibalik paradigm pembelajaran tradisional.
Dengan adanya teknologi para pendidik dapat menciptakan suatu proses belajar mengajar yang menarik, mudah dimengerti, dan interaktif. Prestasi peserta didik pun dapat meningkat. Manfaat teknologi terhadap pendidikan sangat banyak dan membantu dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa lebih paham terhadap pengetahuan, menjadi salah satu sarana pendukung, dapat mencari informasi sendiri tanpa dari guru, bisa digunakan dalam meningkatan mutu pendidikan dan lain lain. Jadi disini guru bukan menjadi satu-satunya sumber ilmu, karena ilmu ada diberbagai sumber. Internet sangat memiliki ilmu pengetahuan yang banyak. Dengan adanya perkembangan teknologi  terutama dalam penggunaan internet diharapkan para peserta didik dapat lebih mudah mencari sumber pembelajaran, referensi. Karena internet dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun.

B. Dampak Negatif

Adapun dampak negatif dari perkembangan IPTEK dalam bidang pendidikan yaitu membuat anak merasa malas dan lupa belajar karena sudah memiliki kecanggihan teknologi, ditambah lagi dengan banyaknya situs-situs permainan game online yang dapat membuat anak jadi kecanduan bermain game ketimbang mengakses informasi-informasi yang dapat menambah wawasan nya. Kemajuan di badang pendidikan juga mencetak generasi yang berepengetahuan tinggi tetapi mempunyai moral yang rendah.Tetap harus waspada karena dengan adanyan internet berarti juga ada bahaya. Ketergantungan terhadap internet juga harus diminimalisir. Pengawasan orangtualah yang bisa membuat perkembangan IPTEK menjadi sangat bemanfaat.
Dalam perkempangannya IPTEK memiliki dampak yang positif untuk menunjang kehidupan manusia sehari-hari, baik dalam pemenuhan kebutuhan, komunikasi, informasi, dan masih banyak lagi. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pula dampak negative yang ditimbulakan IPTEK, terutama dalam perkembangan mental dan kepribadian anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa. Semua hal yang baik dapat kita ambil dan menafaatkan, namun kita tidak dapat menahan hal yang buruk itu berkembang. Yang dapat kita lakukan hanya berusaha memilih dan menggunakan IPTEK dengan sebijak dan sebaik mungkin.


DAFTAR PUSTAKA

Harmoni, A. (1994). Pengantar Ilmu Alamiah Dasar (IAD). Jakarta: Penerbit Gunadarma.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/perkembangan-teknologi-bagi-kehidupan-manusia-perkembangan-teknologi-bagi-kehidupan-manusia/
http://laduniii.blogspot.com/2014/05/dampak-iptek-dikehidupan-manusia.html
http://lydialupita.wordpress.com/2013/04/27/dampak-perkembangan-iptek-terhadap-kehidupan-manusia-dalam-kehidupan-sosial/
http://widyaanissawiranti.blogspot.com/2014/06/dampak-iptek-terhadap-kehidupan-manusia.html
http://dodowindha.blogspot.com/2013/04/dampak-perkembangan-iptek-terhadap.html
http://news.liputan6.com/read/553984/pengaruh-perkembangan-teknologi-dalam-kehidupan-manusia
Next → ← Prev
▲Top▲